Sabtu, 03 Agustus 2013

Nikon D5200 & Nikon D3200: Fasilitas Berkelas



Sekilas, kedua kamera keluaran Nikon ini cukup mirip. Apalagi kalau dilihat dari atas dan depan. Ukurannya pun hampir sama. Tapi, keduanya sebenarnya mewakili dua kelas yang berbeda. Nikon D3200 untuk kelas entry level, D5200 untuk kelas advanced beginner. Karena itu, D5200 menawarkan sejumlah feature dengan spesifikasi di atas D3200. Sama-sama menggunakan sensor CMOS berstandar APS-C, keduanya dirancang untuk menghasilkan gambar beresolusi 24 Megapixel. Prosesor yang dipakainya pun sama, generasi Expeed 3. Sama seperti yang dipakai pada D7100 atau seri profesional D800. Kalau sensitivitas sensor D5200 bisa diperluas hingga ISO 25600, sedangkan di D3200 hanya sampai ISO 12800.
(Ki-Ka) Nikon D5200 dan Nikon D3200

Walaupun layar LCD sama-sama berukuran 3,0 inci dengan resolusi 921.000 Pixel, feature yang ada di D5200 terasa lebih istimewa karena layarnya membawa konsep swivel. Layar LCD pada D5200 yang dapat ditarik ke samping dapat diputar sangat fleksibel ke segala arah. Dalam sumbu vertikal bisa diputar hingga 2700. Fasilitas tersebut sangat membantu pengguna dalam bermain angle. Gambar dengan sudut-sudut pemotretan yang sulit dan unik bisa dikerjakan dengan mudah. Fitur tersebut makin menyenangkan saat dikombinasikan dengan teknologi Live View-nya yang bisa diaktifkan dengan cepat dengan tombol pengumpil baru yang ada di sebelah tombol mode pemotretan. Tombol tersebut ergonomis, pengoperasiannya pun halus dan nyaman.

Yang jadi masalah, auto fokus di mode Live View masih terasa cukup lambat sehingga kurang nyaman saat dipakai untuk melakukan snapshot. Walaupun layarnya tidak bisa dirotasi, pengguna D3200 masih tetap diberikan feature Live View. Di mode Live View, performa auto fokus keduanya hampir sama. Bagaimanapun, memotret dengan memakai viewfinder jauh lebih nyaman karena auto fokusnya bakal bekerja lebih optimal.

Lebih dalam tentang auto fokus, perbedaan kelas antara D5200 dengan D3200 jelas terlihat di sini. Kalau D5200 memiliki 39 AF point dengan 9 diantaranya berupa cross type sensor, D3200 hanya memiliki 11 AF point. Untuk merekam foto tunggal dengan objek yang diam, perbedaan feature tersebut memang tidak berasa. Untuk foto tunggal dengan objek diam, kecepatan auto fokus keduanya terbilang baik. Memuaskan. Namun, saat pemotretan menggunakan mode continuous-servo AF untuk objek bergerak, kecepatan dan akurasi auto fokus D5200 bekerja jauh lebih baik. 

Kualitas Gambar  
Bagi peminat kedua kamera ini, yang patut dicermati adalah kinerja prosesor Expeed 3 yang sudah lebih dulu dipakai di D800. Tidak hanya berperan besar dalam menghasilkan gambar dengan resolusi yang sangat tinggi, prosesor tersebut punya pengaruh signifikan pada kualitas gambar.

Untuk ukuran kamera DSLR entry level, redaksi CFVD cukup terkesan dengan D3200 saat memakainya untuk memotret pertunjukan Sirkus Barock dan Sawung Jabo di Taman Ismail Marzuki, 31 Mei 2013. Untuk pemotretan panggung, kamera DSLR kelas paling bawah ini masih bisa mendapatkan gambar yang baik di ISO 800. Saat sensitivitasnya dinaikkan ke ISO 1600, hasilnya masih memuaskan. Noise sudah cukup banyak di ISO 3200, tapi ketajaman gambarnya masih cukup baik. Dalam hal ini, D5200 memang memiliki tingkat noise yang lebih rendah di ISO 3200.

Di pengujian ini, D5200 dipasangkan dengan lensa AF-S Nikkor 18-55 mm f/3.5-5.6 GII ED. Sedangkan D3200 dipasangkan dengan lensa AF-S Nikkor 18-55 mm f/3.5-5.6 G. Dengan lensa yang berbeda tersebut, ketajaman yang dihasilkan D5200 terlihat sedikit lebih baik dibanding D3200. Namun secara umum, ketajamanan kedua kamera ini masih bisa dibilang kurang maksimal. Dengan resolusinya yang sangat tinggi,  saat hasil fotonya diperbesar terlihat filter noise-nya bekerja cukup agresif. Hal tersebut membuat detail gambarnya sedikit soft. Khususnya gambar dari D3200.

Nikon D5200 * F/8 *  1/200 detik * ISO 100

Untungnya, pemakaian prosesor Expeed 3 secara nyata mampu meningkatkan dynamic range kamera. Hasilnya dapat dilihat langsung pada dua foto hitam putih dengan objek Museum Sejarah Jakarta yang diambil dengan D5200 di samping ini. Satunya, foto dengan objek Museum Prasasti di Tanah Abang yang diambil dengan D3200 di halaman sebelumnya. Dengan mengatur parameter Active D-Lighting  di pilihan Extra High, gambar yang dihasilkan pada situasi berkontras tinggi tetap memiliki detail yang baik di sisi gelap maupun terangnya. Perhatikan foto di samping ini yang diambil pada pukul 13.00 WIB. Detail lantai yang terkena sinar matahari langsung masih tetap terekam dengan cukup baik, sedangkan bagian dinding di belakang yang tidak terkena sinar matahari detailnya juga terekam dengan sangat baik. 

Walaupun resolusinya besar, D5200 maupun D3200 tidak menyediakan buffer yang juga besar. Tipikal kamera untuk pemula. Hal tersebut langsung terasa begitu kita menggunakan mode Continuous-Drive. Walaupun memiliki kecepatan 5 frame per detik, kalau memakai format RAW D5200 hanya bisa merekam 4-5 foto. Dengan format JPEG, baru bisa merekam hingga 15 frame secara kontinu. Dalam hal ini, performa D3200 justru lebih baik. Untuk format RAW+JPEG, kamera entry level tersebut bisa merekam hingga 7 frame.    

Nikon D3200 * F/5.3 *  1/30 detik * ISO 400

Performa Video Full HD  
Keuntungan adanya feature swivel LCD di D5200 sangat terasa saat kita menjalankan feature perekam video. Melihat layar saat merekam jadi lebih nyaman dan fleksibel dibanding layar di D3200. Perbedaan signifikan lainnya pada feature perekam video keduanya terletak di frame rate-nya. Sama-sama menghasilkan video Full HD 1080P, D5200 menyediakan pilihan frame rate hingga 60 frame per detik. Sedangkan, D3200 hanya 30 frame per detik.

Untuk ukuran DSLR entry level, rekaman video dari D3200 terbilang memiliki transisi gambar yang halus. Noise gambar saat dipakai untuk merekam video di dalam ruangan juga terbilang cukup rendah. Hanya saja,  saat merekam video perlu dihindari untuk menggerakkan kamera terlalu cepat karena bisa menimbulkan adanya “jello effect”. Dengan D5200, efek seperti itu sudah tidak ditemukan lagi. Hal tersebut membuat detail video yang dihasilkan oleh D5200 terlihat lebih baik.

Yang sangat menarik, baik di D5200 maupun D3200 pengguna sudah bisa mengontrol volume audio di mode perekam video secara manual. Untuk mendapatkan rekaman suara yang lebih maksimal di mode video, Nikon juga memberikan interface untuk pemakaian mikrofon eksternal pada dua kamera tersebut.

Untuk mendapatkan rekaman video dengan efek yang lebih menarik, baik di D5200 atau D3200 pengguna dapat mengatur pilihan aperture dan kecepatan shutter secara manual. Sebelum memakainya hanya perlu memilih mau menggunakan mode movie dalam pilihan otomatis atau manual saja. Di D3100, pengguna hanya bisa merekam video dalam mode otomatis.

Genersi Digital



Internet di Indonesia mulai berkembang sejak akhir 1980-an dan di awal 1990-an mulai menjamur perusahaan penyelenggara Internet. Namun sampai saya lulus kuliah, belum ada mata kuliah yang berhubungan dengan Internet. Kini, kedua anak saya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) mendapatkan bahan mata pelajarannya melalui blog gurunya. Saat saya masih SD, sumber referensi saya hanya sebatas buku pelajaran sekolah dan koleksi ensiklopedia Khazanah Pengetahuan Bagi Anak-Anak. Kini, anak-anak saya mengalami banjir informasi, mulai dari kanal TV ilmu pengetahuan seperti Discovery dan National Geographic, sampai mencari referensi pelajaran menggunakan Google dan YouTube.
 
Banjir informasi
Kemajuan teknologi selalu lebih cepat ketimbang berbagai hal dalam kehidupan. Penyampaian informasi yang seketika, kemampuan mesin pencari yang mampu melakukan pencarian akurat ketika diberikan kata kunci yang benar, membuat generasi yang sejak awal sudah terpapar kelebihan informasi seperti kebingungan ketika harus melakukan sintesa secara mandiri terhadap informasi yang diterimanya.
 
Dalam berbagai milis yang saya ikuti, sering muncul permintaan mahasiswa tentang sumbangan ide topik. Ketika sudah diberikan ide topiknya, permintaan berlanjut ke bagaimana cara mengerjakannya.Bisa dibilang, generasi masa kini adalah generasi digital. Sejak lahir, fotonya sudah langsung di-upload ke media sosial, berinteraksi dengan teman dekat maupun teman di mancanegara langsung melalui Twitter, dan mencari informasi baik tulisan, gambar, maupun video semudah menggunakan smartphone.
 
Dengan segala kemudahan ini, kesulitan bergeser dari terbatasnya sumber informasi menjadi memilah informasi yang relevan. Para pengajar seperti guru dan dosen sepertinya belum semuanya siap untuk mengajari anak didiknya bagaimana menggunakan kemudahan yang ditawarkan teknologi masa kini.
 
Adaptasi dengan era digital 
Pada tahun 2007, Mark Shuttleworth, pendiri Canonical yang membuat paket distribusi Ubuntu, menuliskan kalimat yang terkenal ini di blognya: “Those  who try to impose analog rules on digital content will find themselves on the wrong side of the tidal wave.” Walaupun sebenarnya konteks kalimat itu berhubungan dengan DRM (Digital Rights Management), namun bisa diaplikasikan secara universal ke dunia digital. Janganlah menggunakan aturan lama (analog) untuk diterapkan dalam dunia digital.
 
Lalu, bagaimana dengan para pengajar generasi digital ini jika masih menggunakan aturan lama?
Saran saya bagi para pengajar adalah jangan berhenti belajar tentang dunia digital. Hal ini tentu saja harus difasilitasi pemerintah ataupun swasta, baik dengan jalan memberikan fasilitas Internetdi sekolah bagi guru atau diberi subsidi untuk akses Internet. Para dosen sepertinya sudah didukung dengan fasilitas di tempat mengajarnya masing-masing.
 
Tinggal keinginan dari diri sendiri untuk terus belajar menggunakan teknologi  yang selalu maju agar tidak terlalu tertinggal dari anak didiknya. Generasi digital juga jangan terlena dengan segala kemudahan yang ditawarkan teknologi. Jangan mudah meminta apa pun kepada komunitas online untuk melayani segala kebutuhan. Kelihatannya memang menggoda mendapatkan jawaban dari orang lain dan tinggal menyalinnya sebagai jawaban tugas-tugas yang diberikan guru atau dosen.
 
Namun itu berarti, hal yang sudah dipelajari hanya cara menyalin tulisan orang lain, bukan bagaimana cara mengerti pertanyaan, memilah dan memahami informasi yang relevan, lalu mencerna jawaban dari pemahaman yang telah didapat.Orang-orang yang hanya sekadar memberikan tautan (link) Google ataupun tidak mau menjawab, justru sebenarnya membantu generasi digital ini untuk bisa belajar secara mandiri.
 
 
Oleh:
Eko Juniarto
Network Application
Development Manager PSN

BBM untuk Android & iOS: Percaya Diri atau Bunuh Diri?



Dalam acara BlackBerry Live 2013 di Orlando, Florida, Amerika Serikat (AS), BlackBerry mengumumkan bahwa layanan BlackBerry Messenger (BBM) akan tersedia untuk platform Android dan iOS. Hal ini tentu sangat mengejutkan, karena selama ini BBM merupakan layanan yang sangat diminati. Bahkan banyak yang rela membeli smartphone BlackBerry agar bisa menggunakan layanan BBM. Di Indonesia, BlackBerry seakan menjadi smartphone wajib, sehingga tidak aneh apabila seseorang menggunakan dua smartphone, BlackBerry untuk BBM-an dan smartphone lainnya (Android atau iPhone) untuk kebutuhan entertainment.
 
BBM untuk semua
Niat BlackBerry melepas BBM sebenarnya sudah mulai terbaca sejak mereka menggunakan jalur koneksi umum untuk kebutuhan BBM, tidak lagi menggunakan jalur khusus yang mengharuskan pengguna berlangganan layanan BlackBerry. Dengan begitu, BBM akan bisa digunakan platform lainnya yang hanya membutuhkan koneksi Internet.
 
Dengan melepas BBM ke platform lain, apakah BlackBerry tidak takut mati? Mungkinkah semua pengguna BlackBerry akan pindah ke platform iOS atau Android? Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu, BlackBerry sudah tidak bisa diselamatkan dan harus melakukan langkah ekstrem untuk menyelamatkan perusahaannya. Dengan melepas BBM, mereka berharap bisa mendapatkan kembali pengguna yang beralih dari BBM ke WhatsApp, Line, dan lain-lain. BBM diharapkan bisa menjadi layanan independen yang bisa hidup dan mendapatkan keuntungannya sendiri.
 
Smartphone BlackBerry kini harus berjuang sendiri karena tidak lagi bisa mengharapkan BBM yang akan segera tersedia untuk platform lain. Sistem operasi BB10 yang digunakan oleh Z10 pun menjadi taruhannya. Setelah menggunakan Z10 lebih dari sebulan, saya merasakan sistem operasi ini memang benar-benar berbeda. 
 
BB10 yang dirancang untuk perangkat touch screen ini tidak cocok bila digunakan dengan ponsel yang menggunakan keyboard fisik. Berbeda dengan iPhone yang masih tergantung dengan satu tombol fisik Home, Z10 sama sekali tidak membutuhkan tombol fisik dalam pengoperasiannya.
 
Di sisi lain, Android memang tidak memiliki tombol fisik namun memiliki softkey Home, Back, Recent dan Search yang selalu muncul dan sering kali tersentuh secara tidak sengaja. Dengan begitu, Z10 tampak sedikit lebih unggul dibandingkan dengan iPhone. Fungsi multitasking yang diusung ketiga platform juga tampak berbeda. iPhone tampak menggunakan pendekatan “Saya tahu yang terbaik untuk Anda (sekalipun sering salah)”, Android menggunakan pendekatan “Anda harus tahu apa yang sedang terjadi (terlalu banyak background task yang tidak dipahami oleh pengguna)”, sedangkan BB10 menggunakan pendekatan “Andalah bosnya (Anda bisa mengatur background task dengan mudah)”.
 
Langkah berani dan berisiko
BlackBerry boleh bangga dengan sistem operasi barunya, namun kehadiran sistem operasi ini sudah sangat terlambat. Sistem operasi sebagus apapun tidak akan ada gunanya bila tidak didukung aplikasi. Sangat banyak aplikasi unggulan yang tidak terdapat di BB10, seperti paket dari Google (Maps, YouTube, Translate, Drive). Google sendiri tidak bersedia membuat aplikasi untuk BB10 karena jumlah penggunanya yang masih terlalu sedikit. Saat saya mencari aplikasi RSS untuk BB10, saya tidak mendapatkannya.
 
Program standar yang saya gunakan untuk menunjang kebutuhan kerja juga masih absen pada BB10. Jadi, apakah langkah BlackBerry melepas BBM ke platform lain ini merupakan sebuah langkah yang tepat? BB10 memang bagus, namun masih tidak bisa dibandingkan dengan iOS dan Android. Keputusan Melepaskan BBM pada saat ini, di saat BB10 masih belum mendapatkan aplikasi bermutu, benar-benar sebuah langkah yang sangat berani dan mengandung risiko besar. Ibarat melepaskan burung kecil di tangan demi menangkap burung besar yang ada di pohon.
 
 
Oleh: S'TO, Praktisi IT

Kamis, 01 Agustus 2013

10 Pencarian Populer Google Indonesia Sepanjang Minggu Ketiga Bulan Puasa




Penasaran apa saja berita yang sedang hangat diperbincangkan atau dicari pengguna Internet di tanah air? Berikut ini  pencarian terpopular di Google Indonesia di minggu ketiga bulan Ramadan, selama tanggal 25 sampai 31 Juli 2013.

Ahli biofisika dan peneliti susunan atom dalam benda padat (chrystallography) asal Inggris ini membantu menemukan struktur DNA pada mahluk hidup.  Pada tanggal 25 Juli yang lalu, Rosalind Franklin juga merupakan tema Google Doodle hari itu guna memperingati ulang tahunnya yang ke-93.

Aktris Bella Saphira dikabarkan akan segera menikah dengan seorang Jenderal Kopasus pada tanggal 17 Agustus besok.  Pada tanggal 26 Juli 2013 yang lalu, Bella juga diberitakan menjadi seorang mualaf setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Setelah tim sepak bola Arsenal dan Liverpool, Chelsea Football Club datang ke Indonesia untuk sebuah pertandingan persahabatan melawan tim Indonesia All Stars.  Sayangnya, Indonesia kalah 0-7.

Untuk minggu kedua, putra pertama Pangeran William dan Catherine Middleton dari Inggris yang lahir tanggal 22 Juli 2013 yang lalu, George Alexander Louis, kembali masuk daftar sepuluh besar pencarian Google.

Setelah Gangnam Style dan Harlem Shake, sepertinya ada tren dansa baru, kali ini dari sebuah program TV di Indonesia. “Goyang Cesar” diciptakan oleh Cesar, salah satu pelawak suatu acara televisi pada jam sahur.  Sudah cobakah dansanya?

Sekali lagi, film horor tentang penyidik paranormal di Amerika Serikat, Ed dan Lorraine Warren, kembali masuk daftar popular pencarian di Indonesia.  Film yang dikabarkan berdasarkan cerita nyata ini dikatakan sangat seram.  Beranikah anda tonton?

7) FPI
Mengikuti bentrokan antara anggota Front Pembela Islam (FPI) dan warga di Kendal, Jawa Tengah yang menewaskan satu orang, berita di media Indonesia terus membahas isu ini.

Bandara Internasional Kuala Namu (KNIA) di Medan diresmikan tanggal 25 Juli yang lalu.  Sudah lihat foto-foto fasilitas transportasi yang bertaraf internasional ini?  Coba cari di Google Images!

Aktor kawakan Australia Hugh Jackman kembali memerankan pahlawan X-Men, Wolverine, dalam film terbarunya.  Bagaimana alur ceritanya?

Artis dan model Nikita Mirzani melaporkan dugaan penganiayaan atas dirinya yang diberitakan terjadi dinihari Sabtu, 27 Juli di sebuah kafe di kawasan Dago, Kota Bandung.

Sementara itu, berikut ini daftar pencarian terpopuler khusus di dunia hiburan:
  1. Bella Saphira - Pada tanggal 26 Juli 2013 yang lalu, aktris ini menjadi seorang mualaf setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta.
  2. Royal Baby - Putra pertama Pangeran William dan Catherine Middleton dari Inggris yang lahir tanggal 22 Juli 2013 diberi nama George Alexander Louis.
  3. Goyang Cesar - Sebuah dansa baru yang diciptakan oleh Cesar, seorang pelawak suatu acara televisi Indonesia pada jam sahur.
  4. The Conjuring - Film horor tentang penyidik paranormal di Amerika Serikat, Ed dan Lorraine Warren, memasuki minggu kedua di bioskop-bioskop Indonesia.  
  5. Wolverine - Aktor kawakan Australia Hugh Jackman kembali memerankan pahlawan X-Men, Wolverine, dalam film terbarunya.
  6. Nikita Mirzani - Artis dan model Nikita Mirzani melaporkan dugaan penganiayaan atas dirinya yang diberitakan terjadi di sebuah kafe di kawasan Dago, Kota Bandung.
  7. Kate Middleton - Istri Pangeran William dari Inggris melahiran anak pertamanya, Pangeran George Alexander Louis pada tanggal 22 Juli yang lalu.
  8. Chand Kelvin - Aktor dan model ini sedang naik daun sebagai anggota suatu acara televisi popular di Indonesia.
  9. Yuk Kita Sahur - Sebuah program popular di televisi Indonesia yang baru-baru ini diberitakan kembali ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
  10. Ahok - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama masuk berita karena sedang mencoba menata ulang daerah Tanah Abang yang terkenal sebagai daerah rawan macet.  

Allied Telesis Hadirkan Teknologi Ethernet Baru, Kurangi Kompleksifitas Hingga 60 Persen



Allied Telesis, penyedia layanan pengalihan IP/Ethernet global, baru saja mengumumkan peluncuran Allied Management Framework (AMF). AMF merupakan sebuah teknologi inovatif yang akan membantu perusahaan menekan biaya dan kompleksitas manajemen jaringan hingga 60% persen.

Software Defined Networking (SDN)--dimana platform perangkat lunak digunakan untuk mengendalikan jaringan secara terpusat--telah muncul di berbagai headline belakangan ini atas klaimnya mengenai pemanfaatan jaringan yang lebih baik dan manajemen jaringan yang lebih mudah. Sayangnya, banyak solusi SDN ditargetkan pada pusat data besar yang menyebabkan sulitnya pelanggan perusahaan tipikal untuk memperolehnya. Allied Telesis mengetahui hal ini dan kemudian mengembangkan AMF sebagai cara praktis bagi Enterprise untuk memperoleh keuntungan SDN tanpa menghabiskan biaya yang besar.

Salah satu keuntungan utama dari SDN adalah janjinya akan manajemen terpusat. SDN memperlakukan jaringan sebagai perangkat virtual tunggal. Allied Telesis telah mengembangkan AMF untuk mencapai tujuan tersebut dan bahkan, dengan manajemen terpusat dari seluruh jaringan dari perangkat tunggal apapun melalui Command Line Interface (CLI) tunggal dan intuitif. Berkas penyesuaian dan berkas firmware secara otomatis disalin ulang secara teratur dan kemudian tersedia untuk regenerasi perangkat yang gagal; serta, perubahan penyesuaian dapat dilakukan pada berbagai perangkat pada waktu yang sama. Gabungan fitur tersebut mempermudah AMF untuk mengurangi pengeluaran operasional jaringan dengan mengurangi kompleksitas manajemen jaringan dan mengotomatiskan berbagai perintah rutin.

Sebagai vendor produk jaringan Ethernet terdepan, Allied Telesis berfokus pada penyampaian keuntungan dari teknologi jaringan terbaru bagi para pelanggan. Allied Telesis telah mengidentifikasi pengelolaan jaringan terpadu sebagai keuntungan langsung bagi pengguna Enterprise dan telah mengembangkan Allied Management Framework (AMF) untuk lebih menyederhanakan perintah pengelolaan jaringan. Fitur kuat seperti manajemen terpusat, backup otomatis, upgrade otomatis, perbekalan otomatis, pemulihan otomatis, jaringan plug-and-play, dan pengelolaan zero-touch merupakan fitur-fitur pertama yang diimplementasikan dalam AMF. AMF tersedia mulai 1 Agustus 2013 dengan berbagai seri Allied Telesis – AT-x210, AT-x510, AT-x610, AT-SBx908, dan AT-xSBx8112.