Kamis, 01 Agustus 2013

Sedapur.com Hentikan Layanan Per 1 Agustus Hari Ini



Salah satu startup pemenang INAICTA 2011, Sedapur.com baru saja mengabarkan penghentian layanannya. Efektif per tanggal 1 Agustus hari ini, Sedapur.com sudah tak lagi beroperasi.

"Keputusan untuk menutup Sedapur.com dilakukan setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Sedapur.com dengan pemegang saham," ucap Tim Sedapur.com dalam pernyataan resminya.


Website sedapur.com sendiri masih tetap ada hingga akhir 2013 mendatang. Namun, Anda sudah tak lagi dapat melakukan transaksi via website ini. Merchant yang terdaftar memiliki hak untuk mengubah informasi penjual dan menampilkan nomor kontak atau alamat pada deskripsi barang atau gerai, sehingga pembeli bisa langsung menghubungi nomor kontak penjual.

Dalam pernyataannya, Tim Sedapur.com turut menambahkan, "Kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telah dilakukan selama ini, baik kepada Penjual, Kurir (Arga Nirwana Express), dan terutama pembeli yang telah mempercayakan Sedapur untuk melayani selama lebih dari 2 tahun ini."

Pos Indonesia Siapkan Layanan E-Payment, Gandeng Perusahaan Asing



Perusahaan negara Pos Indonesia dikabarkan berencana mengembangkan sebuah sistem pembayaran elektronik (e-payment). Untuk memuluskan rencana tersebut, Pos Indonesia menggandeng perusahaan logistik asal Italia, Poste Italiane.

"Kami sudah bertemu dengan pihak Poste Italiane. Ada keinginan untuk membuat perusahaan patungan guna menggarap bisnis pembayaran electronic dan card management," ujar Budi Setiawan, Direktur Utama Pos Indonesia, dalam pernyataan yang dikutip dari IndoTelko.

Sebelumnya, Pos Indonesia dan Poste Italiane sudah menandatangani nota kesepahaman pada awal Juli lalu. Rencananya, kerja sama ini lebih terfokus pada layanan transaksi pembayaran elektronik untuk e-commerce, pengriman, dan bisnis lainnya.

"1 September mendatang pihak Poste Italiane akan berkunjung ke Indonesia untuk membahas rencana bisnis, mempelajari pasar, serta nilai investasi," tambahnya.

Hingga kini, belum diungkapkan seperti apakah bentuk layanan pembayaran elektronik ini. Yang jelas, seperti dikatakan Budi Setiawan, Pos Indonesia dan Poste Italieane akan membentuk sebuah perusahaan patungan untuk memperkenalkan layanan baru tersebut.

ViewSonic PJD7820HD, Proyektor 3D Full HD 1080p Hemat Daya untuk UKM dan Rumahan



ViewSonic Corp hari ini (1/8) mengumumkan kehadiran proyektor ViewSonic PJD7820HD, proyektor terbarunya yang sesuai digunakan di kantor, sekolah, juga sebagai sarana hiburan di rumah.

Dengan kinerja 3D Full HD 1080p dengan 3.000 ANSI lumens dan contrast ratio 15.000:1, ViewSonic PJD7820HD merupakan proyektor terbaik di kelas harganya. PJD7820HD terintegrasi dengan resolusi 3.000 lumens untuk tampilan gambar yang jernih, jelas, bahkan jika di gunakan pada ruangan yang cukup terang.

Untuk memastikan warna hitam tidak nampak abu-abu, proyektor ini dilengkapi dengan contrast ratio 15.000:1. Tak hanya itu, teknologi BrilliantColour yang diusung proyektor ini diklaim Viewsonic mampu meproduksi warna yang menakjubkan.

“Semakin banyaknya aplikasi bisnis yang bekerja dengan resolusi sangat tinggi, permintaan akan proyektor 1080p pun meningkat dalam dunia bisnis,“ ujar Vincent Hung, product manager ViewSonic.

Proyektor ini dilengkapi dengan fitur terkini termasuk diantaranya koneksi HDMI canggih, berbagai pilihan input PC dan video (dual VGA, composite, S-video, RS232, VGA/audio out), 1.3x optical zoom, vertical keystone correction dan speaker terintegrasi.

Di rancang sebagai sebuah proyektor bisnis, PJD7820HD mampu menampilkan aplikasi grafis intensif, CAD engineering drawing atau bebagai file multimedia berdefinisi tinggi. Sebagai sarana hiburan, PJD7820HD juga dapat digunakan untuk menonton film Blu-ray.

Desain tanpa filter dan mode hemat daya DynamicEco “standby” yang diusungnya mampu menurunkan tingkat kecerahan hingga 30 persen ketika proyektor tidak sedang digunakan. PJD7820HD juga memberikan peningkatan kehandalan produk dan biaya pemeliharaan yang hampir nol.
Keunggulan PJD7820HD:
  • 3.000 ANSI lumens dengan contrast ratio 15.000:1 untuk gambar yang jernih dan tajam
  • Full HD 1080p memberikan kualitas gambar menakjubkan
  • Teknologi BrilliantColor memberikan kualitas tampilan tak tertandingi
  • Blu-Ray 3D ready dengan HDMI
  • Teknologi DynamicEco untuk kontrol penuh terhadap fokus peserta
  • Bebas pemeliharaan virtual dengan desain tanpa filter
  • Kualitas gambar yang dapat diandalkan dalam jangka waktu lama dan kinerja warna superior
  • Desain lingkaran warna 6-segment, auto source detection, mendukung sinyal HD & speaker terintegrasi
  • PC 3D-ready & refresh rate hingga 120Hz didukung oleh teknologi DLP Link
  • Umur pakai lampu yang lama hingga 6.000 jam
  • Mode Eco yang ramah lingkungan sehingga menghemat uang dan daya
  • Kecil dan ringan sehingga mudah dibawa

Samsung Bantah Manipulasi Hasil Benchmark Galaxy S4



Samsung terpaksa merespons temuan AnandTech bahwa Samsung sengaja mendongkrak performa benchmark Galaxy S4 dengan menanamkan kode khusus yang meng-overclock ponsel tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi dari kenyataannya.AnandTech menemukan 'BenchmarkBooster' saat membongkar Galaxy S4 dan kode tersebut secara spesifik menyebut Quadrant, LinPack, AnTuTu sebagai aplikasi yang akan memicu clock speed yang lebih tinggi.

Aplikasi benchmark kerap dipakai oleh pengulas perangkat, termasuk CHIP untuk memberikan perbandingan kemampuan komputasi antar perangkat yang berbeda. Samsung Galaxy S4 termasuk perangkat yang memiliki skor terbaik dalam seluruh aplikasi benchmark ini.

Namun, AnandTech menembukan bahwa S4 ternyata meng-overclocking dirinya sendiri, sehingga bisa berjalan lebih cepat, untuk mendapatkan skor yang lebih baik. Padahal, kinerja saat benchmark tidak sebaik saat penggunaan S4 secara normal.

Kepada sejumlah media, Samsung secara resmi menyampaikan bantahan. "Dalam kondisi biasa, Galaxy S4 sudah dirancang untuk memberikan frekuensi GPU maksimum 533MHz. Namun, frekuensi maksimum GPU diturunkan ke 480MHz untuk aplikasi gaming tertentu yang bisa mengakibatkan kelebihan beban, ketika digunakan dalam modus layar penuh dalam waktu yang lama," kata Samsung.
"Sementara itu, frekuensi maksimum GPU 533MHz bisa dipakai aplikasi yang sedang berjalan yang biasanya digunakan dalam modus layar penuh, seperti S Browser, gallery, camera, video player, dan aplikasi benchmarking tertentu, yang juga membutuhkan performa yang substansial."

"Frekuensi maksimum GPU untuk Galaxy S4 bervariasi untuk memberikan pengalaman pengguna yang optimal kepada konsumen kami, dan tidak dimaksudkan untuk memperbaiki hasil benchmark tertentu."
 

(Cnet)

ESET: Serangan dan Infeksi Android Makin Tinggi



Menurut data yang dilansir dari Virusradar.com, posisi Indonesia di wilayah regional Asia Tenggara, internet environment Indonesia masih menjadi yang terkotor dengan tingkat infeksi 16.94% atau nomor dua setelah Laos dengan 24.07%.
Masih ber-evolusinya malware lama yang beredar dan teridentifikasi oleh ESET sejak Jui 2010 hingga saat ini, menjadi ancaman bagi user komputer di Indonesia.

Menurut Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT Prosperita ESET-Indonesia, kondisi internet environment demikian terutama pada pengguna home user, dipicu oleh beberapa hal. "Internet di Indonesia, meski dari sisi kecepatan masih masuk kategori lambat, namun semakin terjangkau. Daya beli yang semakin tinggi, membuat masyarakat akhirnya mampu untuk memiliki perangkat yang juga semakin murah, sehingga akses internet menjadi mudah. Tetapi sayangnya tidak dibarengi dengan kesadaran akan keamanan perangkat baik PC maupun perangkat mobile seperti smartphone dan tablet,'' jelasnya.

Yudi juga beranggapan, perilaku dalam menggunakan PC dan berinternet juga membuat pengguna terekspose oleh malware. Banyak pengguna yang mengabaikan proses scanning pada perangkat asing yang masuk ke komputer kita seperti melalui USB.

Situasi yang kurang lebih sama juga terjadi pada system operasi Android. Indonesia mengalami peningkatan pengguna Android sangat pesat tetapi minim kesadaran akan keamanan.

Hingga kini malware mobile sebagian besar adalah Trojan, yang tersebar dengan pola menyamar sebagai aplikasi legal yang berasal dari Google Play. Meski Google telah berupaya melakukan "Bouncer" program untuk memindai dan menghapus aplikasi yang mengandung malware, tetapi ada kalanya aplikasi bermuatan Trojan bisa lolos. Selain itu, banyak juga toko aplikasi pihak ketiga yang tidak memeriksa aplikasi dagangannya terlebih dahulu.

Meskipun demikian, harus diakui memang belum ada epidemi malware yang begitu dahsyat di Android, dimana malware menyebar secara langsung dari satu perangkat mobile ke perangkat mobile yang lain.
“Dalam ranah mobile, penyebaran malwarenya juga bertujuan untuk memperoleh keuntungan finansial. Perolehan dalam bentuk uang tersebut  umumnya melalui pengiriman SMS ke nomor premium, dan pencurian data dan informasi milik korban yang akan dijual ke pelaku spamming, dan adware,' tambah Yudhi. ''Selain itu, ada juga yang melakukan pemerasan melalui pengiriman informasi keamanan palsu, dan pasti berhubungan dengan software antivirus palsu. Aplikasi Spyphones juga terindikasi meningkat dan bisa menjadi ancaman signifikan pada kondisi BYOD – Bring Your Own Device dan APT”, pungkas Yudhi.